Advertisemen
Kesenangan mengikuti cinta, yang menguat menurut kekuatan cinta dan melemah menurut lemahnya cinta. Selagi kasih sayang kepada kekasih dan kerinduan kepadanya kuat, maka kesenangan untuk berhubungan dengannya pun semakin kuat pula. Cinta dan kerinduan tergantung seberapa jauh dia mengetahui kekasihnya. Selagi pengetahuannya lebih komplit, maka cintanya pun lebih komplit pula, apalagi jika dikembalikan pada ( cinta murni/cinta Al-Haq ) kesempurnaan kenikmatan di akhirat dan kesempurnaan pengetahuan tentang cinta ( Bukan cinta yang berasal dari hawa nafsu yang hanya semu dan tak kekal ). Ingatlah !! ………. Siapa yang beriman kepada Allah, asma’ dan sifat-sifat-Nya serta lebih mengetahui-Nya, maka dia akan lebih mencintai-Nya. Kesenangan-Nya terletak pada hubungan dengan-Nya. Memandang wajah-Nya dan mendengarkan kalam-Nya. Setiap kesenangan, kenikmatan dan kegembiraan macam apapun jika dibandingkan dengan kenikmatan itu, bisa diibaratkan setetes air dilautan.
Lalu bagaimana mungkin seseorang yang mempunyai akal sehat lebih mementingkan kesenangan yang sedikit ( dan cinta yang jelas- jelas palsu yang tidak kekal ), sementara waktu dan banyak disertai penderitaan daripada kesenangan yang banyak dan kekal ?
Kesempurnaan hamba tergantung pada dua kekuatan ini, yaitu ilmu dan cinta. Sebaik – baik ilmu adalah ilmu tentang Allah, dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya, sedangkan kesenangan yang paling sempurna tergantung pada dua hal ini.
Dokter hati (Ibnu Qayyim AL-Jauziyah)
“ Sahabat Ali Ra pernah berkata “
| Ada dua orang yang rakus didunia |
| Orang yang rakus “harta” dan rakus “ilmu” |
| (Maka berbahagialah orang yang rakus ilmu) |
= DUA MACAM CEMBURU =
Cemburu itu ada dua macam : Cemburu terhadap sesuatu dan cemburu dari sesuatu. Cemburu terhadap kekasih berarti merupakan penjagaanmu terhadapnya. Sedangkan cemburu dari sesuatu yang tak disukai, karena engkau tidak ingin dia berebut denganmu untuk mendapatkannya. Cemburu terhadap kekasih tidak menjadi sempurna kecuali dengan cemburu dari saingan. Hal ini termasuk sesuatu yang terpuji, karena kekasih akan diperburuk oleh persekutuan dalam cinta, seperti persekutuan mahluk. Sedangkan persekutuan cinta yang dianggap baik ialah seperti Rasul dan orang berilmu.
Cemburu yang terpuji ialah jika orang yang jatuh cinta cemburu karena cintanya beralih kepada selain kekasihnya, atau dia cemburu jika orang lain mengetahui cintanya lalu merusaknya, atau dia cemburu jika ada sesuatu yang mengusik kebencian kekasihnya, seperti riya’, ujub, menggunjing dan lain-lainnya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa cemburunya itu menuntut agar semua keadaan, perbuatan dan perkataannya hanya karena Allah. Begitu pula cemburu terhadap waktunya, jika waktu itu berlalu tidak menurut kerelaan kekasih.
Cemburu itu berasal dari hamba, yaitu cemburu dari adanya saingan yang dapat merintanginya untuk mendapatkan keridhaan sang kekasih. Sedangkan cemburu kekasih kepadanya, yaitu kebenciannya jika hatinya berbalik dari cintanya untuk mencintai selainnya, sehingga sesuatu yang lain itu menjadi sekutu cintanya. Karena cemburu Allah ialah jika hamba melakukan apa yang diharamkan atas dirinya. Karena cemburu Allah inilah Dia mengharamkan kekejian, yang tampak maupun tersembunyi. Sebab mahluk merupakan hamba-Nya. Allah cemburu terhadap hamba – hamba-Nya jika cinta mereka tertuju kepada selain-Nya, lalu cinta itu mendorong mereka untuk melakukan kekejian.
Siapa yang mengagungkan keberadaan Allah di dalam hatinya lalu dia mendurhakai-Nya, lalu dia menempatkan dirinya di dalam hati mahluk lalu mereka menghinakannya.
Jika amar ma’rifah ditanam di bumi hati, maka di dalamnya akan tumbuh pohon cinta. Jika pohon itu sudah besar dan kuat, maka ia akan membuahkan ketaatan. Dengan izin Allah pohon itu akan mendatangkan hasilnya setiap saat.
Bumi fitrah adalah bumi yang subur, sangat layak untuk ditanami. Jika engkau menanam pohon iman dan takwa, maka buah yang dihasilkan akan manis selama – lamanya. Jika engkau menanam pohon kebodohan dan hawa nafsu, maka apapun buah yang dihasilkannya terasa pahit.
Kembali kepada Allah dan memohonlah kepada-Nya dengan mata, pendengaran, hati dan lidahmu. Jangan engkau keluar dari empat hal ini. Tidak ada yang kembali kepada-Nya berkat taufik-Nya kecuali dengan empat hal itu, dan tidak ada yang keluar kecuali dari empat hal ini. Orang yang mendapat taufik ialah yang mendengar, melihat, berkata dan berbuat berdasarkan kehendak tuannya. Sedangkan orang yang ditelantarkan ialah yang berbuat semua itu berdasarkan kehendak dirinya sendiri.
Perumpamaan lahirnya ketaatan, perkembangan dan tambahannya, seperti biji yang engkau semai lalu tumbuh menjadi pohon, kemudian berbuah dan engkau bisa memakan buahnya. Kemudian engkau menanam lagi bijinya. Setiap kali pohon menjadi besar dan berbuah, engkau bisa memetik buahnya dan sekaligus engkau bisa menanamnya kembali. Begitu pula yang terjadi dengan kedurhakaan.
Orang yang berakal hendaklah mencermati perumpaan ini. Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan yang datang setelah itu, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan yang datang setelah itu.
Tidak aneh jika ada budak yang merendahkan diri kepada Allah, menyembah-Nya dan tidak bosan mengabdi kepada-Nya, karena memang dia senantiasa membutuhkan-Nya. Yang aneh ialah jika ada raja yang mengharapkan cinta budaknya dengan cara memberinya berbagai macam kenikmatan dan mencintainya dengan memberikan berbagai macam hadiah.
Dokter hati (Ibnu Qayyim AL-Jauziyah)
“Sungguh benar adanya
Harta tiada lagi berguna
Bagi manusia yang fana
Bilamana nafas pilu telah tiba
Saat tersendat pada tenggorokannya
Dan sesak dadanya.”
( Syair Abu Bakar Siddiq ketika menjelang ajalnya )
“ Hatiku mengadu “
Disaat hatiku mengadu
Kulihat jalan – jalan begitu buntu
Saat – saat hati menjadi keras
Kegundahanpun menyesakkan nafas
Harapan hamba selain ampunan-Mu
Hamba jadikan tangga ke Sorga-Mu
Dosa – dosa menggunung tak terbayangkan
Tetapi jika hamba bandingkan dengan ampunan-Mu
Maka ampunan-Mu lebih agung
Ampunan-Mu lebih besar, yaa Rabb tidak diragukan
Engkaulah pemberi ampunan
Atas segala dosa yang hamba lakukan
Engkau tetap memberi kebaikan
(Syair Imam Syafi’I ketika menjelang ajalnya)
Advertisemen
